Mengenai Alam, Antroposentrisme, Arsitektur
Mengenai Alam, Antroposentrisme, Arsitektur
Raya Natalie
Seiring perjalanan waktu dan juga seiring dengan perkembangan zaman, telah ditemukan banyak sekali paham yang dapat mempengaruhi pola pikir manusia dan membuatnya menjadi dasar kepercayaan. Seperti halnya paham tentang Antroposentrisme. Antroposentrisme (Anthropocentrism) adalah paham bahwa manusia merupakan spesies paling penting daripada spesies hewan, penilaian ini berdasarkan sudut pandang manusia yang eksklusif dengan konsep utama di bidang etika lingkungan dan filsafat lingkungan. Antroposentrisme tertanam kuat dalam berbagai budaya manusia modern. Istilah Antroposentrisme ini dapat ditukar dengan Humanosentrisme dan Supermasi Manusia. Ada pula pengertian dari Antroprosen, yakni sebuah era yang bermula ketika aktivitas manusia mulai memiliki pengaruh global terhadap ekosistem bumi.
Manusia yang menganut cara pandang Antroposentrisme akan berpikir bahwa alam dan seisinya memang diciptakan untuk dikonsumsi oleh manusia, dan hal ini dapat memicu keserakahan pada manusia yang jarang disadari oleh manusia itu sendiri. Contohnya adalah penebangan pohon. Pohon merupakan sumber oksigen bumi, selain itu pohon juga dapat membantu mengurangi gas karbondioksida yang ada di bumi. Manusia menebang pohon, kemudian hasil dari tebangan pohon tersebut dijadikan kertas, batang pensil, dan sebagainya. Saat ini kertas sudah menjadi kebutuhan pokok manusia yang selalu dibutuhkan, dampaknya adalah semakin banyak pohon yang ditebang untuk menghasilkan kertas. Akibatnya kadar oksigen bumi semakin sedikit, dan sangat memungkinkan bahwa suatu saat nanti manusia tidak akan bisa menghirup oksigen lagi. Selain itu penebangan pohon juga dapat memicu bencana, karena jika tidak ada pohon maka air hujan langsung masuk selokan dan sebagian kecil masuk ke dalam tanah dan tidak dapat dikontrol karena tidak adanya akar yang dapat membantu menyerap air hujan. Maka peluang terjadinya bencana tanah longsor menjadi tinggi. Hal ini akan menjadi masalah besar yang buruk untuk bumi dan manusia.
Tentang Antroprosen, jurnal UGM menyatakan bahwa Antroprosen menunjukan suatu krisis yang berasal dari ketidaksengajaan manusia. Akibat dari kecerobohan manusia, kini bumi berada di dalam bahaya. Seiring berjalannya waktu dan zaman, semakin banyak teknologi modern yang mempermudah manusia untuk melakukan suatu pekerjaan, sehingga manusia menjadi sangat ceroboh dan berbuat sesukanya, hingga tidak sadar aktivitas manusia yang ceroboh itu dapat merugikan lingkungan sekitarnya. Contohnya adalah teknologi Air Conditioner (AC) dan juga Chloro Fluorocarbon (Freon). Masalah ini berawal dari AC yang panas. Cara agar AC itu dingin adalah dengan menambahkan Freon pada AC. Freon dapat menyebabkan pemanasan global yang berdampak pada perubahan lingkungan hidup kita, mulai dari meningkatnya suhu muka bumi sampai mencairnya es di kutub. Selain itu penggunaan Freon ini dapat berdampak buruk bagi kesehatan manusia (jika manusia menghirup gas Freon, memungkinkan terjadinya pembengkakan tenggorokan, kesulitan bernapas, dsb.), pernyataan ini dikutip di laman referensi geografi tentang dampak pemakaian AC bagi manusia.
Terdapat juga keterkaitan antara Antroposentrisme, Antroprosen dengan Arsitektur. Salah satu contohnya pernah dikutip oleh Mark Twain di dalam buku Was The World Made For Man saat Mark Twain menyindir kepercayaan Antroposentris Alfred Russel Wallace, bahwa alam semesta tercipta khusus untuk evolusi manusia."Andai Menara Eiffel saat ini mewakili usia dunia, kulit cat di puncaknya mewakili usia umat manusia; dan siapa pun akan menganggap bahwa kulit tersebut adalah tujuan dibangunnya menara ini. Aku kira mereka akan beranggapan seperti itu. Aku tak tahu.".
Dari kutipan kalimat ini dan juga dari pengertian-pengertian Antroposentrisme dan Antroprosen dapat disimpulkan bahwa semua yang ada di bumi, diciptakan untuk saling melengkapi. Dan kebanyakan masalah yang terjadi di dunia ini disebabkan oleh ulah manusia yang serakah dan "tidak tahu untung". Manusia tanpa disadari, masih banyak yang menganggap dirinya berada di tingkat tertinggi dan paling mulia di dunia ini, dan beberapa manusia berpikir bahwa mereka bisa melakukan semuanya dengan sesuka hati dan tidak peduli dengan makhluk hidup lainnya.


This comment has been removed by the author.
ReplyDelete